Seperti namanya, prinsip dari kereta api ini adalah memanfaatkan gaya angkat magnetik pada relnya sehingga terangkat sedikit ke atas, kemudian gaya dorong dihasilkan oleh motor induksi. Kereta ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 650 km/jam (404 mpj) jauh lebih cepat dari kereta biasa. Beberapa negara yang telah menggunakan kereta api jenis ini adalah Jepang, Perancis, Amerika, dan Jerman. Dikarenakan mahalnya pembuatan relnya, di dunia pada 2005 hanya ada dua jalur Maglev yang dibuka umum, di Shanghai dan Kota Toyota.
Senin, 05 Juli 2010
Cara Kerja Kereta Api Maglev (Kereta Tercepat di Dunia)
Pernah mendengar kereta Maglev???
MagLev adalah singkatan dari MAGnetically LEVitated trains yang terjemahan bebasnya adalah kereta api yang mengambang secara magnetis. Sering juga disebut kereta api magnet.
Seperti namanya, prinsip dari kereta api ini adalah memanfaatkan gaya angkat magnetik pada relnya sehingga terangkat sedikit ke atas, kemudian gaya dorong dihasilkan oleh motor induksi. Kereta ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 650 km/jam (404 mpj) jauh lebih cepat dari kereta biasa. Beberapa negara yang telah menggunakan kereta api jenis ini adalah Jepang, Perancis, Amerika, dan Jerman. Dikarenakan mahalnya pembuatan relnya, di dunia pada 2005 hanya ada dua jalur Maglev yang dibuka umum, di Shanghai dan Kota Toyota.
Seperti namanya, prinsip dari kereta api ini adalah memanfaatkan gaya angkat magnetik pada relnya sehingga terangkat sedikit ke atas, kemudian gaya dorong dihasilkan oleh motor induksi. Kereta ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 650 km/jam (404 mpj) jauh lebih cepat dari kereta biasa. Beberapa negara yang telah menggunakan kereta api jenis ini adalah Jepang, Perancis, Amerika, dan Jerman. Dikarenakan mahalnya pembuatan relnya, di dunia pada 2005 hanya ada dua jalur Maglev yang dibuka umum, di Shanghai dan Kota Toyota.
Termoelektrik (Energi Panas menjadi Listrik)
Prinsip kerja dari Termoelektrik adalah dengan berdasarkan Efek Seebeck yaitu “jika 2 buah logam yang berbeda disambungkan salah satu ujunganya, kemudian diberikan suhu yang berbeda pada sambungan, maka terjadi perbedaan tegangan pada ujung yang satu dengan ujung yang lain”.( Muhaimin, 1993).
Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah rangkaian. Di antara kedua logam tersebut lalu diletakkan jarum kompas. Ketika sisi logam tersebut dipanaskan, jarum kompas ternyata bergerak. Belakangan diketahui, hal ini terjadi karena aliran listrik yang terjadi pada logam menimbulkan medan magnet. Medan magnet inilah yang menggerakkan jarum kompas. Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan efek Seebeck.
Kenapa Pesawat bisa terbang
Kenapa Pesawat Bisa Terbang?
Pesawat terbang adalah mesin atau kendaraan apapun yang mampu terbang di atmosfer. Prinsip-prinsip terbangnya menggunakan hukum fisika yakni memanfaatkan hukum bernoulli di udara dengan memanfaatkan arus laminiar sayap yang dihasilkan akibat daya dorong mesin pesawat. Sebagian besar pesawat komersial saat ini menggunakan mesin turbofan. Turbofan berasal dari dua kata, yakni turbin dan fan. Komponan fan merupakan pembeda antara mesin ini dengan turbojet. Pada mesin turbojet, udara luar dikompresi oleh kompresor hingga mencapai tekanan tinggi. Selanjutnya udara bertekanan tinggi tersebut masuk ke dalam ruang bakar untuk dicampurkan dengan bahan bakar (avtur).
Wow, Mobil Ber-BB Singkong Melaju ke SBY
[caption id="attachment_298" align="alignleft" width="298" caption="Tujuh unit mobil berbahan bakar singkong melakukan ekspedisi ke Surabaya untuk menguji ketahanan sumber daya alternatif tersebut "]
[/caption]
JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT Energy Karya Madani berhasil menciptakan bioetanol yang kemudian disebut Biopremium ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman singkong.
"Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja," ujar sang penemu yang juga Dirut PT Energy Karya Madani S Adibrata, Senin (24/5/2010) di Jakarta.
Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan dari etanol berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. "Bisa dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada sekarang, yang hanya sekitar 70 persen," ungkapnya kepada para wartawan.
JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT Energy Karya Madani berhasil menciptakan bioetanol yang kemudian disebut Biopremium ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman singkong.
"Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja," ujar sang penemu yang juga Dirut PT Energy Karya Madani S Adibrata, Senin (24/5/2010) di Jakarta.
Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan dari etanol berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. "Bisa dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada sekarang, yang hanya sekitar 70 persen," ungkapnya kepada para wartawan.
Penjelajah Asteroid Kembali ke Bumi
JAKARTA, KOMPAS.com - Hayabusa, wahana antariksa Jepang kembali ke Bumi hari Minggu (13/6/2010) petang, setelah menjalani misi pendaratan ke asteroid Itokawa, selama tujuh tahun lebih. Wahana yang pembawa kapsul penyimpan sampel batuan dari Itokawa itu jatuh di selatan Australia sekitar pukul 21.00 WIB.
[caption id="attachment_292" align="alignleft" width="497" caption="Ilustrasi Hayabusa saat mendekati asteroid Itokawa. "]
[/caption]
Sebelumnya, Hayabusa melintasi kawasan selatan Indonesia. Namun, obyek ini sulit terlihat di malam hari karena saat melintas dari barat ke selatan Indonesia kapsul belum terbakar. Hal ini disampaikan pakar astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, Minggu (13/6).
"Hayabusa ini hanya terlihat di Australia selama beberapa menit sebelum jatuh,” ujar Thomas, peneliti dari Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan. Kenampakannya di langit arah barat laut sebagai obyek yang menyerupai "bintang" sangat terang di dekat Mars yang bergerak ke arah selatan. Saat terbakar, wahana itu bersuhu sekitar 7.000 derajat celsius.
Badan Antariksa Jepang (JAXA) telah melakukan beberapa tahapan TCM (trajectory Correction maneuver) untuk mengarahkan Hayabusa ke titik jatuh. Pada hari Minggu, sekitar pukul 18.00 WIB, wahana ini berada di atas India pada ketinggian 70.000 kilometer atau dua kali ketinggian orbit satelit Palapa. Kapsul pembawa sampel mulai dilepas dari Hayabusa saat berada di atas selatan jazirah Arab. Selanjutnya, kapsul di arahkan untuk jatuh di wilayah Woomera, Australia Selatan.
Memasuki atmosfer Bumi pada ketinggian 200 kilometer, kecepatan Hayabusa mencapai lebih dari 400.000 kilometer per jam. Dan, pada ketinggian sekitar 100 kilometer Hayabusa dan kapsul akan terbakar. Pesawat induk ini habis terbakar, tetapi kapsul yang dilengkapi pelindung panas yang mutakhir dirancang tetap utuh hingga mencapai permukaan Bumi pada Minggu pukul 11 malam waktu Australia.
Keberhasilan misi Hayabusa merupakan pencapaian penting bagi pengembangan teknologi dan sains antariksa, antara lain dalam rekayasa dan pengujian propulsi ion dan pelindung panas kapsul antariksa. Selain itu, kajian fisis jarak dekat asteroid Itokawa dan sampel tanahnya juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang fisis tata surya dan asal-usulnya.(YUN)
[caption id="attachment_292" align="alignleft" width="497" caption="Ilustrasi Hayabusa saat mendekati asteroid Itokawa. "]
Sebelumnya, Hayabusa melintasi kawasan selatan Indonesia. Namun, obyek ini sulit terlihat di malam hari karena saat melintas dari barat ke selatan Indonesia kapsul belum terbakar. Hal ini disampaikan pakar astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, Minggu (13/6).
"Hayabusa ini hanya terlihat di Australia selama beberapa menit sebelum jatuh,” ujar Thomas, peneliti dari Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan. Kenampakannya di langit arah barat laut sebagai obyek yang menyerupai "bintang" sangat terang di dekat Mars yang bergerak ke arah selatan. Saat terbakar, wahana itu bersuhu sekitar 7.000 derajat celsius.
Badan Antariksa Jepang (JAXA) telah melakukan beberapa tahapan TCM (trajectory Correction maneuver) untuk mengarahkan Hayabusa ke titik jatuh. Pada hari Minggu, sekitar pukul 18.00 WIB, wahana ini berada di atas India pada ketinggian 70.000 kilometer atau dua kali ketinggian orbit satelit Palapa. Kapsul pembawa sampel mulai dilepas dari Hayabusa saat berada di atas selatan jazirah Arab. Selanjutnya, kapsul di arahkan untuk jatuh di wilayah Woomera, Australia Selatan.
Memasuki atmosfer Bumi pada ketinggian 200 kilometer, kecepatan Hayabusa mencapai lebih dari 400.000 kilometer per jam. Dan, pada ketinggian sekitar 100 kilometer Hayabusa dan kapsul akan terbakar. Pesawat induk ini habis terbakar, tetapi kapsul yang dilengkapi pelindung panas yang mutakhir dirancang tetap utuh hingga mencapai permukaan Bumi pada Minggu pukul 11 malam waktu Australia.
Keberhasilan misi Hayabusa merupakan pencapaian penting bagi pengembangan teknologi dan sains antariksa, antara lain dalam rekayasa dan pengujian propulsi ion dan pelindung panas kapsul antariksa. Selain itu, kajian fisis jarak dekat asteroid Itokawa dan sampel tanahnya juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang fisis tata surya dan asal-usulnya.(YUN)
Tahun Ini, Roket LAPAN Luncurkan Satelit
"Saat ini kami sedang mempersiapkan dengan matang rencana peluncuran roket pengorbit satelit. Saat ini mungkin baru akan meluncurkan satelit "Nano" dengan berat di bawah 10 kilogram," katanya, Sabtu (26/6/2010).
Menurut Rika Andiarti, satelit "nano" ini dapat difungsikan untuk pemantauan suhu udara maupun kelembabab udara dan data kecil atau sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan satelit. "Ke depan kami targetkan mampu mengorbitkan satelit berukuran besar seperti yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan lainnya," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan berbagai persiapan uji coba peluncuran roket pengorbit satelit. "Lima tahun ke depan kami harus sudah mampu memproduksi roket peluncur satelit berukuran besar, sehingga Indonesia tidak lagi meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit," kata Rika .
Jamin keamanan
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Djamasri menambahkan, dengan mengorbitkan sendiri satelit maka keamanan negara akan lebih terjamin. "Saat ini Indonesia masih meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit, dan ini sangat rawan karena muatan roket dan satelit bisa disusupi kepentingan negara pengorbit satelit," katanya.
Profesor Djamasri mengatakan, teknologi kedirgantaraan khusunya tentang roket sangat bermanfaat dan bisa untuk berbagai kepentingan seperti mitgasi bencana. Teknologi kedirgantaraan juga sangat mendukung untuk kepentingan pertahanan Indonesia .
"Jika dari Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul kita mampu membuat roket dengan daya luncur antara 3.000 hingga 5.000 kilometer maka pertahanan akan semakin kokoh dan negara lain tidak akan seenaknya," katanya.
(kompas.com)
Langganan:
Postingan (Atom)